Senin, 15 September 2014

SEPUCUK SURAT UNTUK MAMA………

Tentang sebuah kerinduan yang tak terlampiaskan

Hai ma……
Apa kabarnya ? Moga ja mama baik-baik ja di sana ya……
Aku mau cerita ma, ya itung-itung buat ngilangin rindu aku ke mama
Aku mau cerita tentang kenangan waktu mama masih ada
Dulu waktu aku masih kecil, mama yang bangunin aku buat siap-siap ke sekolah, mama yang mandikan aku, mama yang makein baju aku, mama juga yang nyuapin makan aku, dan mama juga yang ngantar aku ke sekolah. Dan yang paling berkesan ketika mama cium kening ku  kalau aku mau masuk ke dalam kelas, aku slalu ingat momen itu, karena setiap mama cium keningku, mama slalu mengatakan ,” Belajar yang benar ya nak, supaya jadi orang hebat .” Itulah yang membuat aku jadi tambah semangat belajarnya.
Tapi itu dulu, saat mama ada. Sekarang, gag ada lagi yang bangunkan aku kalau pagi tiba, gag ada yang nyiapin pakaian dan gag ada yang nyiapin sarapan pagi. Semua aku lakukan sendiri. Gak ada lagi ciuman,dan gak ada lagi motivasi penyemangat…..
Dulu, ketika bulan puasa datang, mama  yang ngajarin aku buat kuat nglewatinya. Gag kebayang gimana gag enaknya waktu puasa untuk anak umur lima tahun, gag boleh makan dan minum. Tapi, mama selalu memotivasi ku supaya aku kuat puasanya. Bahkan, mama sampai marah-marah kalau aku ketahuan mau buka diam-diam. Ya mau gak mau aku tahankan puasanya, takut dimarahi mama. Hahaha…tapi lucu ya ma , puasa ku penuh karena takut dimarahi sama mama.
Tapi, itu dulu juga. Sekarang gag ada lagi yang nemanin aku ketika puasa, gag ada lagi yang marahi aku, motivasi aku kalau aku gag kuat lagi puasanya. Walaupun akirnya aku terbiasa puasa tanpa mama, tapi tetap aja ada yang kurang kalau tanpa mama
Ingat gag ma, waktu aku ulang tahun, mama pasti ngerayain ulang tahun ku. Mama yang ngundang teman-teman ku, mama juga belikan hadiah untuk ku meskipun itu menggunakan uang mama sendiri, karena ayah gag mau merayain ulang tahun ku. Itu semua mama lakukan hanya untuk membuat ku senang, buat aku bahagia dan hanya demi melihat senyumku yang gak seberapa………
Tapi itu dulu ma, sekarang gag ada lagi yang mau ngerayain ulang tahun ku, gag ada lagi hadiah, dan gag ku dengar lagi ucapan semoga panjang umur untukku. Haha….gak enak ya ma rasanya kalau kehilangan seseorang yang kita sayang L
Oea, ingat gag ma waktu aku buat mama marah pertama kalinya. Hahaha….lucu kalau ngingatnya sekarang. Waktu itu mama jemput aku pulang sekolah, terus aku mintak dibeliin pisang molen, waktu itu mama gag bawak uang. Tapi memang akunya yang bandel, aku maksa mama buat beliin aku pisang molennya, sampe mama kesal dan marah sama ku, trus mama pergi  pulang ninggalin aku di sekolah sendirian. Sampe-sampek ayah yang jemput aku satu jam kemudian. Hahaha….. lucu la pokok nya….
Pernah suatu hari aku kecelakaan, aku tertabrak sepeda motor yang lagi kencang. Aku terlempar, kaki ku luka dan berdarah. Mama langsung lari kearah ku dengan muka kawatir. Trus mama marah-marah sama yang nabrak aku, Untung ayah datang trus nyuruh mama masuk ke rumah buat ngobati lukaku, dan mama ngrawat aku sampai aku sembuh…………
Tapi, itu juga dulu ma…, Sekarang gag ada lagi yang ngobati aku kalau aku terluka, aku sendirilah yang ngobati lukaku..Gak jarang aku nangis sendiri sambil memanggil namamu, kalau aku teringat mama waktu ngobati aku dulu….
Sampai pada hari itu, Hari kamis. Hari dimana bencana itu dimulai, mama mengantarku dan adik ke sekolah. Kau mencium kening ku seperti biasa. Tapi, ciuman mu kali ini beda, mama cium aku terlalu lama, seakan-akan  itulah ciuman terakir mu buat anak-anak mu. Aku jadi heran, tapi tidak terlalu ku pedulikan . Lalu mama pulang , melambaikan tangan tanda perpisahan…..
Bel pulang sekolah berbunyi, aku keluar dari kelas. Ternyata adik sudah menunggu ku di depan kelas ku. Aku pegang tangannya dan kami pun pergi ke gerbang sekolah. Menunggu….kami menunggu kedatangan mu ma…
Tapi hari itu terasa sangat berbeda. Satu jam berlalu……..Mama belum datang. Kami mencoba bersabar. Dua jam berlalu…….Mama belum datang juga. Hati ku bertanya ,” Apakah mama masih bertengkar sama ayah?” Karena memang tiga hari yang lalu mama dan ayah bertengkar, entah apa masalahnya.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang jalan kaki,. Adik pun tidak protes waktu aku ajak untuk pulang jalan kaki. Tahukah mama, apa yang aku pikirkan dalam perjalanan pulang ? Aku Cuma memikirkanmu. Aku hawatir, takut terjadi apa-apa dengan mama. Aku kembali teringat dengan ciuman anehmu tadi pagi.
Setibanya di persimpangan jalan dekat rumah, adik melihat sesuatu dan memberi tahukannya ke aku. Aku terkejut ketika melihat sepeda motor yang mama kendarai buat ngantar aku sekolah sudah hancur tak berbentuk. Aku tanya sama abang penjual bakso di dekat situ ,” Kenapa sepeda motor itu hancur bang?” Dia jawab ,”Oooo…itu speda motornya abis tabrakan dek, di tabrak sama mobil countainer yang di sebrang jalan itu.” Aku lansung melihat ke sebrang jalan. Sumpah, countainer besar kali, pantas saja sepeda motornya hancur. Lalu aku bertanya lagi ke abang yang tadi ,” Kecelakaannya gimana bang? Trus korbannya gimana ?” Abang itu jawab ,” Mobil countainer itu melaju kencang dari arah Barat dan menghantam sepeda motor itu dari arah depan, korbannya seorang ibu dan seorang anak perempuannya. Si ibu terseret sejauh sepuluh meter karena setang sepeda motornya nyangkut di bemper depan mobil, batok kepala bagian belakangnya pecah. Trus anaknya terlempar ke atas setinggi tiga puluh meteran gitu la dek, dan jatuh dengan posisi kepalanya duluan.”
Mendengar jawaban abang itu, aku jadi gemetar, aku serasa gag sanggup jalan lagi, walaupun jarak rumah sudah dekat. Tanpa bilang trima kasih kepada abang itu, aku langsung menarik tangan adik dan kami berlari agar cepat sampai rumah. Mama tahu gag apa yang aku pikirkan? Aku terus menghawtirkan mama, dan aku berharap korban kecelakaan itu bukan mama dan adik. Begitu sampai rumah, aku melihat banyak orang di sana, enggak seperti biasanya. Aku bertanya sama nenek yang datang mendekatiku ,” Mama mana nek ? Kenapa mama gag jemput kami ? Nenek datang mendakatiku, nenek menangis, dia jawab ,” Mama kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit, Kamu sama adik yang sabar ya sayang….”
Aku nangis….Nangis tersedih yang pernah aku rasakan, adik hanya diam, karena dia belum ngerti apa yang terjadi. Nenek memelukku dan adik. Setelah itu aku dan adik pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaanmu. Aku terdiam ketika sampai di ruang UGD, aku melihat dua buah ember besar berisikan penuh darah segar. Lalu aku ngliat mama terbaring lemah di atas tempat tidur. Aku dekati ayah, trus aku tanya ,” Darah siapa itu yah?” Ayah melihat ke arahku, lalu mengelus pipiku,” Itu darah mama nak.” Aku terdiam, gag nyangka darah mama sebanyak itu. Mama ibaratkan boneka manusia yang tak berdaya. Putih pucat. Aku tanya lagi,” Adik perempuan gimana keadaannya yah ? Ayah menjawab sambil memelukku ,” Adikmu mengalami pendarahan otak hebat, dan kepalanya divonis retak untuk waktu yang sangat lama dan bisa jadi selamanya. Aku diam, aku nangis lagi, lalu pergi menjauh dari ayah, supaya ayah gag lihat aku nangis, aku takut ayah makin sedih nglihat aku nangis.
Mama dirawat di rumah sakit. Hari pertama di rawat tidak ada yang bisa di ceritakan. Hari kedua di rumah sakit, aku duduk di samping tempat tidurmu. Tiba-tiba suster datang untuk mengecek kondisimu, Suster itu datang dengan senyuman, dia ngajak mama ngobrol dia nanyak,”Ibu gimana keadaannya, Sudah mendingankan ? mama bilang udah. Trus dia nanyak lagi ,” Ibu sudah punya anak ? Mama jawab ,” Sudah sus, ini anak saya yang duduk di samping saya.” Mama menjawabnya sambil menunjuk ke arah ku. Aku tersenyum, lalu suster itu bertanya lagi ,” Adek ini anak ibu yang keberapa ,” Trus mama jawab ,” Anak yang kesebelas sus…..”
Senyum yang baru ngembang di pipiku, hilang ketika mendengar jawaban mama, secara aku adalah anak pertama mama, tapi mama bilang sama suster itu kalau aku anak ke sebelas. Disitulah aku sadar ma, kalau ingatan mama sudah kacau. Aku mau nangis, teriak, tapi ditahan sama ayah, ayah langsung memelukku untuk meredam tangisku.
Tiba-tiba mama manggil aku, mengeluhkan kepalamu yang pusing. Aku menghampirimu, mijitin kepalamu agar hilang pusingnya, sampai-sampai mama tertidur pulas…..
Tepat hari senin, empat hari setelah mama dirawat, ayah menyuruhku kembali bersekolah. Tahukah mama perasaanku waktu itu ? Aku gag merasakan apa-apa tentang mama dan aku yakin mama akan sembuh. Setibanya di sekolah, semua teman-temanku dan juga guru-guruku menyambut senang kedatangan ku. Wali kelasku memelukku, dia bilang kalau aku harus kuat, aku harus tabah dan jadi contoh bagi adik-adikku…
Pelajaran dimulai. Mama tau gag apa yang terjadi setelah itu ? Paman datang menjemputku ke sekolah, dan itu semua tiba-tiba. Dia bicara dengan wali kelasku. Entah apa yang mereka bicarakan. Setelah itu, ibu guru manggil aku, dia memelukku sambil nangis. Aku gag tau kenapa dia nangis, aku tanya kenapa ibu nangis, tapi ibu guru hanya bilang kalau aku harus jadi anak yang kuat dan harus pande buat ikhlas dan sabar, dan ibu guru bilang aku gag boleh nangis. Aku masih bingung sama apa yang ibu guru katakan, tapi paman langsung bawa aku pulang naik becak.
Di perjalanan pulang aku ngelihat air mata paman berjatuhan, bagaikan hujan deras yang gag akan berhenti. Arah perjalanan pun tidak ke rumah, melainkan ke rumah sakit tempat mama dirawat. Aku mulai berpikiran yang enggak-enggak tentang mama, tapi semua pikiran itu ku buang jauh-jauh. Setibanya di rumah sakit, aku berlari menuju kamar dimana mama dirawat. Betapa terkejutnya aku melihat semua yang ada di dalam kamar menangis, aku cari ayah, tapi ayah pingsan tak sadarkan diri. Aku melihat ke  arah mama, tapi mama sudah ditutupi kain putih, aku mendekati mama, lalu aku buka kain putih yang menutupi mama pelan-pelan. Air mataku jatuh, wajah mama begitu putih.., seputih kapas, aku gag bisa ngapa-ngapai. Mama telah pergi……………pergi ninggalin ayah, aku dan adik-adik, pergi dan tak akan kembali…….untuk selamanya. Air mataku gag mau berhenti, dan mungkin gag akan berhenti……..senyum manis di bibirmu menghiasi kepergianmu….Aku gag akan melihat senyum itu lagi, senyum yang bisa menenangkan hatiku dikala ku sedih, senyum yang bisa menenangkan keadaan dikala semuanya mulai tak terkendali ……..aku kehilangan kasih sayangmu yang selama ini menghiasi hidupku……………….aku masih membutuhkan kasih sayang itu, tapi mama mengambil kasih sayang itu dari ku…….aku kehilangan belaian tanganmu yang lembut, yang membuatku selalu nyaman berada di dekat mu…….Aku kehilangan semuanya, Aku kehilangan mama……..Aku gak punya mama lagi……..
Aku depresi…. Sebulan lebih aku gag mau ngapa-ngapain, sebulan lebih juga aku gag masuk sekolah, aku ngerasa semua yang ku lakukan sia-sia, hambar dan tak berguna…sampai-sampai ayah hawatir dengan keadaanku. Itulah yang dirasakan anak umur 7 tahun yang sudah gak punya mama lagi
Sekarang aku sudah besar, Aku masih sering menangis dalam doaku untukmu, semoga mama mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aku juga menjaga adik-adik dengan baik, sesuai dengan keinginanmu…
Terkadang aku iri melihat anak-anak lain yang masih memiliki ibu, mereka masih merasakan kasih sayang yang tiada duanya di dunia ini. Terkadang aku juga sangat marah, melihat mereka yang memperlakukan ibunya seperti binatang, ingin aku memukulnya dan memarahinya..gak terima akan kelakuan mereka terhadap ibunya
Aku rindu sama mama………..
Aku ingin mama ada di sini bersamaku, menemani hari-hari ku……
Dan melalui surat ini aku sampaikan rinduku kepada mama, semoga mama membaca suratku ini…………..
Maaf ya ma…kalau aku agak bawel kali ini, tapi Cuma inilah cara yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa rinduku ke mama. Surat ini juga surat terpanjang yang pernah aku tulis lo ma..semuanya ku tulis supaya mama tau betapa rindunya anak-anak mu kepada mu…..
Udah dulu ya ma…semoga mama baik-baik aja di sana, jaga kesehatan slalu, bagi ku, mama slalu hidup dalam hatiku……I will miss you mom…and  love you forever…….

Salam rindu………… Rhyme In Peace…