Tentang sebuah kerinduan
yang tak terlampiaskan
Hai ma……
Apa kabarnya ? Moga ja mama baik-baik
ja di sana ya……
Aku mau cerita ma, ya itung-itung buat
ngilangin rindu aku ke mama
Aku mau cerita tentang kenangan waktu
mama masih ada
Dulu waktu aku masih kecil, mama yang bangunin aku buat
siap-siap ke sekolah, mama yang mandikan aku, mama yang makein baju aku, mama
juga yang nyuapin makan aku, dan mama juga yang ngantar aku ke sekolah. Dan
yang paling berkesan ketika mama cium kening ku kalau aku mau masuk ke dalam kelas, aku slalu
ingat momen itu, karena setiap mama cium keningku, mama slalu mengatakan ,”
Belajar yang benar ya nak, supaya jadi orang hebat .” Itulah yang membuat aku
jadi tambah semangat belajarnya.
Dulu, ketika bulan puasa datang, mama yang ngajarin aku buat kuat nglewatinya. Gag
kebayang gimana gag enaknya waktu puasa untuk anak umur lima tahun, gag boleh
makan dan minum. Tapi, mama selalu memotivasi ku supaya aku kuat puasanya.
Bahkan, mama sampai marah-marah kalau aku ketahuan mau buka diam-diam. Ya mau
gak mau aku tahankan puasanya, takut dimarahi mama. Hahaha…tapi lucu ya ma ,
puasa ku penuh karena takut dimarahi sama mama.
Tapi, itu dulu juga. Sekarang gag ada lagi yang nemanin aku
ketika puasa, gag ada lagi yang marahi aku, motivasi aku kalau aku gag kuat
lagi puasanya. Walaupun akirnya aku terbiasa puasa tanpa mama, tapi tetap aja
ada yang kurang kalau tanpa mama
Tapi itu dulu ma, sekarang gag ada lagi yang mau ngerayain ulang
tahun ku, gag ada lagi hadiah, dan gag ku dengar lagi ucapan semoga panjang umur
untukku. Haha….gak enak ya ma rasanya kalau kehilangan seseorang yang kita
sayang L
Oea, ingat gag ma waktu aku buat mama marah pertama kalinya.
Hahaha….lucu kalau ngingatnya sekarang. Waktu itu mama jemput aku pulang
sekolah, terus aku mintak dibeliin pisang molen, waktu itu mama gag bawak uang.
Tapi memang akunya yang bandel, aku maksa mama buat beliin aku pisang molennya,
sampe mama kesal dan marah sama ku, trus mama pergi pulang ninggalin aku di sekolah sendirian.
Sampe-sampek ayah yang jemput aku satu jam kemudian. Hahaha….. lucu la pokok
nya….
Pernah suatu hari aku kecelakaan, aku tertabrak sepeda motor
yang lagi kencang. Aku terlempar, kaki ku luka dan berdarah. Mama langsung lari
kearah ku dengan muka kawatir. Trus mama marah-marah sama yang nabrak aku,
Untung ayah datang trus nyuruh mama masuk ke rumah buat ngobati lukaku, dan
mama ngrawat aku sampai aku sembuh…………
Tapi, itu juga dulu ma…, Sekarang gag ada lagi yang ngobati aku
kalau aku terluka, aku sendirilah yang ngobati lukaku..Gak jarang aku nangis
sendiri sambil memanggil namamu, kalau aku teringat mama waktu ngobati aku
dulu….
Sampai pada hari itu, Hari kamis. Hari dimana bencana itu
dimulai, mama mengantarku dan adik ke sekolah. Kau mencium kening ku seperti
biasa. Tapi, ciuman mu kali ini beda, mama cium aku terlalu lama,
seakan-akan itulah ciuman terakir mu
buat anak-anak mu. Aku jadi heran, tapi tidak terlalu ku pedulikan . Lalu mama
pulang , melambaikan tangan tanda perpisahan…..
Tapi hari itu terasa sangat berbeda. Satu jam berlalu……..Mama
belum datang. Kami mencoba bersabar. Dua jam berlalu…….Mama belum datang juga.
Hati ku bertanya ,” Apakah mama masih bertengkar sama ayah?” Karena memang tiga
hari yang lalu mama dan ayah bertengkar, entah apa masalahnya.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang jalan kaki,. Adik pun tidak
protes waktu aku ajak untuk pulang jalan kaki. Tahukah mama, apa yang aku
pikirkan dalam perjalanan pulang ? Aku Cuma memikirkanmu. Aku hawatir, takut
terjadi apa-apa dengan mama. Aku kembali teringat dengan ciuman anehmu tadi
pagi.
Setibanya di persimpangan jalan dekat rumah, adik melihat
sesuatu dan memberi tahukannya ke aku. Aku terkejut ketika melihat sepeda motor
yang mama kendarai buat ngantar aku sekolah sudah hancur tak berbentuk. Aku
tanya sama abang penjual bakso di dekat situ ,” Kenapa sepeda motor itu hancur
bang?” Dia jawab ,”Oooo…itu speda motornya abis tabrakan dek, di tabrak sama
mobil countainer yang di sebrang jalan itu.” Aku lansung melihat ke sebrang
jalan. Sumpah, countainer besar kali, pantas saja sepeda motornya hancur. Lalu
aku bertanya lagi ke abang yang tadi ,” Kecelakaannya gimana bang? Trus
korbannya gimana ?” Abang itu jawab ,” Mobil countainer itu melaju kencang dari
arah Barat dan menghantam sepeda motor itu dari arah depan, korbannya seorang
ibu dan seorang anak perempuannya. Si ibu terseret sejauh sepuluh meter karena
setang sepeda motornya nyangkut di bemper depan mobil, batok kepala bagian
belakangnya pecah. Trus anaknya terlempar ke atas setinggi tiga puluh meteran
gitu la dek, dan jatuh dengan posisi kepalanya duluan.”
Mendengar jawaban abang itu, aku jadi gemetar, aku serasa gag
sanggup jalan lagi, walaupun jarak rumah sudah dekat. Tanpa bilang trima kasih
kepada abang itu, aku langsung menarik tangan adik dan kami berlari agar cepat
sampai rumah. Mama tahu gag apa yang aku pikirkan? Aku terus menghawtirkan mama,
dan aku berharap korban kecelakaan itu bukan mama dan adik. Begitu sampai rumah,
aku melihat banyak orang di sana, enggak seperti biasanya. Aku bertanya sama
nenek yang datang mendekatiku ,” Mama mana nek ? Kenapa mama gag jemput kami ?
Nenek datang mendakatiku, nenek menangis, dia jawab ,” Mama kecelakaan,
sekarang ada di rumah sakit, Kamu sama adik yang sabar ya sayang….”
Aku nangis….Nangis tersedih yang pernah aku rasakan, adik hanya
diam, karena dia belum ngerti apa yang terjadi. Nenek memelukku dan adik.
Setelah itu aku dan adik pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaanmu. Aku
terdiam ketika sampai di ruang UGD, aku melihat dua buah ember besar berisikan
penuh darah segar. Lalu aku ngliat mama terbaring lemah di atas tempat tidur.
Aku dekati ayah, trus aku tanya ,” Darah siapa itu yah?” Ayah melihat ke
arahku, lalu mengelus pipiku,” Itu darah mama nak.” Aku terdiam, gag nyangka
darah mama sebanyak itu. Mama ibaratkan boneka manusia yang tak berdaya. Putih
pucat. Aku tanya lagi,” Adik perempuan gimana keadaannya yah ? Ayah menjawab
sambil memelukku ,” Adikmu mengalami pendarahan otak hebat, dan kepalanya
divonis retak untuk waktu yang sangat lama dan bisa jadi selamanya. Aku diam,
aku nangis lagi, lalu pergi menjauh dari ayah, supaya ayah gag lihat aku
nangis, aku takut ayah makin sedih nglihat aku nangis.
Mama dirawat di rumah sakit. Hari pertama di rawat tidak ada
yang bisa di ceritakan. Hari kedua di rumah sakit, aku duduk di samping tempat
tidurmu. Tiba-tiba suster datang untuk mengecek kondisimu, Suster itu datang
dengan senyuman, dia ngajak mama ngobrol dia nanyak,”Ibu gimana keadaannya,
Sudah mendingankan ? mama bilang udah. Trus dia nanyak lagi ,” Ibu sudah punya
anak ? Mama jawab ,” Sudah sus, ini anak saya yang duduk di samping saya.” Mama
menjawabnya sambil menunjuk ke arah ku. Aku tersenyum, lalu suster itu bertanya
lagi ,” Adek ini anak ibu yang keberapa ,” Trus mama jawab ,” Anak yang
kesebelas sus…..”
Senyum yang baru ngembang di pipiku, hilang ketika mendengar
jawaban mama, secara aku adalah anak pertama mama, tapi mama bilang sama suster
itu kalau aku anak ke sebelas. Disitulah aku sadar ma, kalau ingatan mama sudah
kacau. Aku mau nangis, teriak, tapi ditahan sama ayah, ayah langsung memelukku
untuk meredam tangisku.
Tiba-tiba mama manggil aku, mengeluhkan kepalamu yang pusing.
Aku menghampirimu, mijitin kepalamu agar hilang pusingnya, sampai-sampai mama
tertidur pulas…..
Di perjalanan pulang aku ngelihat air mata paman berjatuhan,
bagaikan hujan deras yang gag akan berhenti. Arah perjalanan pun tidak ke
rumah, melainkan ke rumah sakit tempat mama dirawat. Aku mulai berpikiran yang
enggak-enggak tentang mama, tapi semua pikiran itu ku buang jauh-jauh.
Setibanya di rumah sakit, aku berlari menuju kamar dimana mama dirawat. Betapa
terkejutnya aku melihat semua yang ada di dalam kamar menangis, aku cari ayah,
tapi ayah pingsan tak sadarkan diri. Aku melihat ke arah mama, tapi mama sudah ditutupi kain
putih, aku mendekati mama, lalu aku buka kain putih yang menutupi mama
pelan-pelan. Air mataku jatuh, wajah mama begitu putih.., seputih kapas, aku
gag bisa ngapa-ngapai. Mama telah pergi……………pergi ninggalin ayah, aku dan
adik-adik, pergi dan tak akan kembali…….untuk selamanya. Air mataku gag mau
berhenti, dan mungkin gag akan berhenti……..senyum manis di bibirmu menghiasi
kepergianmu….Aku gag akan melihat senyum itu lagi, senyum yang bisa menenangkan
hatiku dikala ku sedih, senyum yang bisa menenangkan keadaan dikala semuanya
mulai tak terkendali ……..aku kehilangan kasih sayangmu yang selama ini
menghiasi hidupku……………….aku masih membutuhkan kasih sayang itu, tapi mama
mengambil kasih sayang itu dari ku…….aku kehilangan belaian tanganmu yang
lembut, yang membuatku selalu nyaman berada di dekat mu…….Aku kehilangan
semuanya, Aku kehilangan mama……..Aku gak punya mama lagi……..
Aku depresi…. Sebulan lebih aku gag mau ngapa-ngapain, sebulan
lebih juga aku gag masuk sekolah, aku ngerasa semua yang ku lakukan sia-sia,
hambar dan tak berguna…sampai-sampai ayah hawatir dengan keadaanku. Itulah yang
dirasakan anak umur 7 tahun yang sudah gak punya mama lagi
Sekarang aku sudah besar, Aku masih sering menangis dalam doaku
untukmu, semoga mama mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aku juga menjaga
adik-adik dengan baik, sesuai dengan keinginanmu…
Terkadang aku iri melihat anak-anak lain yang masih memiliki ibu,
mereka masih merasakan kasih sayang yang tiada duanya di dunia ini. Terkadang
aku juga sangat marah, melihat mereka yang memperlakukan ibunya seperti
binatang, ingin aku memukulnya dan memarahinya..gak terima akan kelakuan mereka
terhadap ibunya
Aku rindu sama mama………..
Aku ingin mama ada di sini bersamaku, menemani hari-hari ku……
Dan melalui surat ini aku sampaikan rinduku kepada mama, semoga
mama membaca suratku ini…………..
Maaf ya ma…kalau aku agak bawel kali ini, tapi Cuma inilah cara
yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa rinduku ke mama. Surat ini juga
surat terpanjang yang pernah aku tulis lo ma..semuanya ku tulis supaya mama tau
betapa rindunya anak-anak mu kepada mu…..
Udah dulu ya ma…semoga mama baik-baik aja di sana, jaga
kesehatan slalu, bagi ku, mama slalu hidup dalam hatiku……I will miss you
mom…and love you forever…….